The Self-healing Issue: Bangkit

Pandemi Virus Corona belum juga usai, banyak orang yang justru menjerit karena dampak yang ditimbulkan akibat pandemi ini. Banyak kegiatan masyarakat yang terganggu, karena pembatasan aktivitas masyarakat, mulai dari kegiatan ekonomi, pendidikan, dan apa lagi, saya tidak ingin membahas soal itu. Tentu hal itu menjadi pukulan keras banyak banyak orang, karena adanya pandemi ini, banyak dari mereka yang kehilangan pekerjaan dan susahnya mencari pekerjaan lain.


Buat saya? mmm... untuk saya pribadi, dampak akibat pandemi ini rasanya tidak ada bedanya dengan waktu sebelum pandemi, memangnya saya ini siapa?. Lagi lagi kita dituntut untuk terus bersyukur dalam keadaan apapun. But,,, there is something else about this.

Self-healing of Bullying Trauma

Dulu saya pernah mengalami pembulian,  oleh teman-teman sekelas saat duduk di bangku sekolah junior, selama beberapa waktu. Awalnya saya tidak peduli bulian mereka. Tak kusangka, peristiwa itu sangat membekas di kemudian hari. 

Jujur, hingga saat ini saya tidak menyimpan perasaan dendam pada mereka-mereka itu, but I feel so angry at my mind. Kenapa saya begitu bodoh saat itu, seandainya saya melawan. Untungnya saya masih punya pikiran yang lurus. Hahha..

Semudah itu? not that easy, man. Tentu ada hari-hari di mana saya mengalami tekanan mental, bayang-bayang di mana posisi saya sangat terhina, timbul kecemasan sosial, dan pemicu yang membuat saya berpikir tidak bisa menerima itu semua. Suatu saat saudara ipar pernah bilang ke saya, "Jangan takut ngomong sama orang lain, orang lain nggak bakal ngapa ngapain". Seolah-olah saudara saya mampu membaca pikiran saya, padahal saya sedang tidak melakukan apa apa, saking takutnya bertemu orang lain. Stressful banget lah pokoknya.

Sampai akhirnya berada berada di tahap yang membuat saya berpikir bahwa, tidak ada waktu memikirkan semua itu, mau sampai kapan terus terperangkap dalam situasi yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri. Ini waktunya untuk bangkit dari sakit, yang perlahan merusak diri sendiri secara internal. Melakukan kesibukan positif adalah hal yang tepat buat saya untuk melupakan apa yang pernah saya alami, kemudian belajar untuk menerima. Biarkan jadi masa lalu.

Kasus bullying di dunia pendidikan memang sering terjadi, entah itu hal sepele secara verbal hingga fisik. Menurut saya korban bullying sangat rentan secara psikologis, berdampak pada kesehatan mental si korban, karena bisa saja salah arah akibat trauma yang dialami. Saya bersyukur, saya bisa menjadi lebih aware untuk lebih menghargai orang lain.

Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia

Happy World Mental Health Day

Posting Komentar