Pesan Tentang Intelijen Negara

Rutinitas seperti biasa di tempat kerja, loop yang sama dari berangkat hingga pulang. Tidak ada yang spesial selain bersyukur. Pandemi memang tak begitu berarti untuk saya, namun banyak hal yang saya alami dan saya belanjar banyak dari hal itu. Pandemi membuat perasaan menjadi tabu saat ingin pergi kemana-mana, paling tempat tujuan ditutup.
 
Seorang ibu-ibu mendatangi saya di tempat kerja. Ibu Yuni, beliau memang kerap menemui saya untuk meminta jasa ketik. Ibu Yuni adalah seorang PNS guru SMP yang sebentar lagi akan habis masa tugasnya. Pandemi membuat sebagian besar kegiatan dilakukan secara daring. Orang orang mulai beradaptasi dengan teknologi. Seperti biasa beliau selalu meminta saya mengetikan soal matematika yang telah dibuatnya untuk anak didiknya. Beliau enggan untuk melakukannya sendiri dan belajar banyak hal tentang teknologi, alasannya karena tinggal beberapa bulan lagi pensiun. Beliau orang yang baik pada saya, jadi saya dengan senang hati untuk membantunya. Walau memang itu sudah jadi tugas saya.

Ketika selesai, Bu Yuni pun berbincang bincang dengan saya sambil merapihkan semua dokumen untuk bergegas pulang dan menanyakan pada saya lulusan dari mana. Beliau menyarankan saya untuk masuk Badan Intelijen Negara karena saya berbadan tinggi, kemudian ia memberikan saya dokumen melalui aplikasi pesan singkat yang berisi surat informasi resmi tentang penerimaan Seleksi Sekolah Taruna Badan Intelijen Negara. Beliau menjelaskan secara singkat tugas seorang intelijen negara, mempelajari banyak bahasa, bela diri, dan menjadi agen rahasia negara. Keren juga, saya jadi mengahayal seorang agen rahasia terlalu dalam. Semacam CIA yang ada di United States kata beliau. Saya pikir cuma ada di sana saja. Tapi memang semestinya setiap negara mempunyai badan intelijensinya sendiri. Eittts, saya yakin kenyataan tidak semanis dalam film. Pasti tantangan besar dan berat yang bisa melalui semua itu.

Kaget, untuk apa saya ikut hal seperti ini. Seandainya saya berani berkata, mental saya tak sekuat yang Ibu kira. Lagipula saya tidak terlahir sempurna secara panca indra untuk mengikuti seleksi. Selain itu umur saya sudah lebih satu tahun dari batas kriteria.

Beberapa bulan kemudian beliau datang menemui saya untuk membuat salinan dokumen miliknya, kemudian ia bercakap bahwa dirinya telah pensiun. Saya pun memberikan selamat kepada beliau. Sejak itu ia hampir tidak pernah datang lagi karena masa tugasnya telah berakhir sehingga tak ada lagi beban tugas soal yang harus saya ketik lagi. Namun seorang pria paruh baya malah jadi sering datang ke saya untuk membuat salinan dokumen. Seorang pria itu membawa seorang anak kecil, saya teringat ketika Ibu Yuni membawa cucunya, ternyata pria paruh baya itu adalah anak Ibu Yuni yang seorang TNI, pantas saja beliau mengetahui kaitan informasi tentang sekolah taruna itu.  
1 komentar

komentarnya dongg