Tentang Sebuah Hubungan

Saya pernah ditanya "Mas Irul punya pacar nggak?"

Saya jawab "enggak. emangnya pacar buat apa?" 

"ya buat temen" katanya.

Pertanyaan itu dilontarkan oleh anak kecil yang baru akan masuk taman kanak-kanak. Saya sama sekali tidak kepikiran, seorang anak kecil akan bertanya begitu.

Lantas membuat saya berpikir. Di umur 20an ini kok masih betah sendiri. Saya bukannya tidak mau menjalani hubungan. Umur yang mungkin bagi sebagian orang sudah matang, bagi saya masih seperti seseorang yang baru saja lepas dari status kanak-kanak dan baru bisa merasakan apa itu rasa malu.

Beberapa kali saya sudah mendapat "warning" soal menikah, dari keluarga maupun teman. Saya juga tak ingin berlama-lama. Kalau bisa sih cepet-cepet. Lebih cepat lebih baik. Ditambah lagi, beberapa teman sepantaran sudah ada yang menikah. Keadaan itu secara tidak langsung meroasting tentang status saya.

Beberapa waktu yang lalu, saudara sepupu laki-laki saya baru saja menikah. Usianya lebih tua dari saya. Saya ikut menyaksikan malam pelaksanaan ijab kabul di tempat mempelai wanita, sebelum dilangsungkannya acara resepsi keesokan harinya. Hal itu membuat daftar tambah roasting untuk saya. 

Tapi saya tetap bahagia kok, menyaksikan momen sakral itu. Saya melihat dari kejauhan. Betapa heningnya kala itu. Saudara saya terlihat serius dan sepertinya terlihat tegang. Beberapa kali sang penghulu mencairkan suasana agar lebih rileks. 

sumber dokumen pribadi, saat saudara saya setelah melakukan ijab kabul

Saya langsung introspeksi. Mondar-mandir mencari sudut padang yang bagus untuk saya foto. Padahal saya sedang overthingking. Apa fase baru ini akan segera saya alami. Rasanya sudah sangat dekat, dan sepertinya saya belum siap. Masih banyak hal yang ingin saya lakukan "sendiri". 

Sebagai anak bungsu, saya masih punya banyak cita dan harapan yang belum saya coret dari daftar impian. Begitulah kira-kira cara berpikir saya yang keras kepala.

Tak saya sangka, sebentar lagi akan sampai di fase yang penuh dengan tanggung jawab besar. Mereka itu hebat loh. Mereka yang sudah siap mental, dan mereka yang sudah berani mengemban tanggung jawab yang besar. 

Saya berusaha untuk tidak merasa terdesak. Bukankah kita berhak menentukan kebahagiaan kita sendiri? dan berhak menentukan kapan kita bahagia? soal itu kembali pada diri masing-masing yang berhak memutuskan.



7 komentar
  1. Kalau saya lihat Idealis ini mas Amir, seperti saya saja.

    Bicara tentang pernihakan, siapa sih yang gak mau berumah tangga.
    Saya juga sering ditanya, "mana calonnya?" "Sudah punya pacar belum?"
    Bukannya tidak berusaha, sudah berusaha.
    Tapi ya pada akhirnya semua ada waktunya masing masing.
    yang bisa dan perlu kita fokuskan saat ini berusaha hidup sebaik mungkin.
    Biarkan waktu yang mengungkapnya, toh kita sudah memberikan terbaik yang kita bisa selama hidup.

    BalasHapus
    Balasan
    1. orang ber-idealisme tinggi ternyata keras kepala ya mas.. hehe

      Hapus
  2. memang saat saat paling menegangkan bagi seorang pria salah satunya waktu ijab qobul di depan pak penghulu...tapi habis itu baru deh lega hehehe..moga moga mas irul bisa mengerjakan apa yang diprioritaskan dan difokuskan saat ini, dan nantinya akan bertemu dengan tambatan hati yang diidam idamkan...aminnn

    BalasHapus
  3. Ngapain buru2 nikah, kalau dirimu bahagia dengan kesendiriannya. Toh dilihat wajahmu belum juga dewasa amat. He he ... terima kasih telah berbagi, ananda Amir. Salam sukses selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih keliatan bocah dong saya bun? hahaha

      Hapus

komentarnya dongg