Apple Rilis Vision Pro, Siapa Sih yang Mau Pakai?

Bukan Apple namanya kalau tidak minimalis, estetik, calm, dan elegan.  Siapa sih yang tidak tahu Apple? buat para pegiat urban life pasti sudah familiar dengan Apple. Sebuah perusahaan raksasa teknologi yang berasal dari Amerika Serikat yang selalu mencuri perhatian saya setiap ada event tahunan mereka.

Sebagai tech enthusiast, saya selalu terkagum-kagum dengan gaya presentasi apple pada event tahunan yang kadang-kadang ada plot twist yang mind blowing.

Salah satu hal yang bikin saya tergelitik adalah ketika Apple hampir selalu menggunakan kata "Ever" saat memperkenalkan produk atau fitur baru pada produknya. 

Sangat terkesan kalem, wow dan revolusioner. Tapi jujur lama-lama jadi cringe. Kenapa sih Apple selalu pakai kata itu terus.

Terkesan overproud ya? tapi saya bukan fanboy kok, bahkan saya tidak memakai produknya. Kenapa? alasannya simpel. Mahal, dan saya belum mampu. 😫 Karena rasanya kurang Afdhal kalau cuma memakai salah satu perangkat dari perangkat utama apple yang membuat pengalaman komputasi jadi lebih seamless.

Apple Vision Pro

Akhirnya Apple nambah lagi satu jenis perangkat baru, yaitu Apple Vision Pro. Apple Vision Pro adalah komputer spasial yang menggabungkan interaksi konten digital dengan dunia nyata. Kata Apple ini akan jadi era baru bagaimana kita berinteraksi dengan komputer. Basicnya, Apple Vision Pro merupakan perangkat headset mixed reality.
Mixed Reality adalah gabungan antara pengalaman AR (Augmented Reality) dan VR (Virtual Reality).
Jadi, kita bisa berinteraksi dengan konten digital dalam dunia nyata yang hanya bisa dilihat dengan perangkat  Mixed Reality, kita juga bisa menggunakannya untuk pengalaman Virtual Reality, yang mana perangkat ini akan mengisolasi penglihatan kita seolah-olah kita masuk ke dunia yang berbeda secara virtual.

sumber: apple.com

Apple Vision Pro ini memang terbilang canggih dan berani. Apple benar-benar membuatnya tanpa kontroler tambahan untuk mengoperasikan perangkat ini. Perangkat ini cuma butuh gestur tangan, mata, dan suara untuk mengoperasikannya. 

Walau ketika pengguna alat ini wajahnya tertutup perangkat, raut wajah pengguna akan diproyeksikan secara real-time di layar depan ketika sedang berinteraksi dengan orang lain. Sayangnya baterai Apple Vision Pro ini malah tidak dibuat secara built-in, malah terkesan ribet karena ada kabel baterai yang menggantung.

Salah satu fitur yang bikin saya kagum adalah Eyesight, fitur ini memungkinkan kita untuk memfokuskan ke objek tertentu dan kita bisa langsung "Klik" dengan gestur tangan. Tanpa susah payah mengarahkan pointer tangan kita untuk menunjuk sesuatu.



Teknologi seperti ini sebenarnya sudah ada sejak 2016 ketika Microsoft pertama kali memperkenalkan HoloLens 1 yang merupakan perangkat headset Mixed Reality. Serta ada Oculust Quest  yang dirilis tahun 2019 oleh Meta (Facebook).

Balik lagi ke Apple Vision Pro. Dari presentasinya, Apple jelas terlihat berusaha menjadikan perangkat Mixed Reality ini sebagai perangkat produktif dengan pengalaman spasial yang unik. Dari produk demo yang diperlihatkan terlihat beberapa aplikasi seperti Browser, e-mail, chatting, manajemen foto, dan yang lainnya.

Tapi apa iya sih perangkat beginian seberguna itu? Apalagi harganya bikin tepuk jidat. $3.500 atau lebih dari 50jt rupiah. Itu pun di US sana.

Apple Vision Pro Interface. sumber: apple.com

Saya sendiri kurang yakin apakah perangkat ini akan efisien jika digunakan layaknya perangkat produktif layaknya PC atau smartphone. Misalnya dalam urusan perkantoran, saat mengedit dokumen pastinya sangat ribet buat interaksi dengan keyboard AR, meskipun ada pengalaman mengetik menggunakan voice typing, tentunya tidak seleluasa menggunakan keyboard fisik pada umumnya.Terutama saat ingin mengkoreksi tulisan.

Saya juga belum ada pandangan seperti apa kelanjutan versi perangkat ini di masa depan. Untuk saat ini sepertinya perangkat ini lebih cocok digunakan sebagai perangkat essensial atau tambahan. Karena masih agak lucu ketik kita akan mengerjakan sesuatu, tugas atau pekerjan kantor, akuntansi, dll. Masa kita harus gerak sana-sini pakai .

Menurut saya perangkat ini akan cocok ketika ingin menonton film dengan nuansa bioskop dengan pengalaman spasial yang lebih nyata, gaming experience, bisa juga untuk presentasi produk secara 3D sehingga mampu menggambarkan produk secara lebih nyata, dan bakalan cocok untuk alat peraga edukasi ataupun yang lainnya. Bagaimana menurut kalian?
2 komentar
  1. Bener sih, alat ini kayaknya masih cocok buat hiburan, bukan untuk kegiatan produktif seperti kerja atau belajar. Dan saya malah ingin meng-highlight soal pengalaman yang dibuat oleh alat ini pasti tidak akan mampu menandingi ketika kita melakukan langsung dengan anggota badan lainnya. Terkadang yang konvensional tetap paling the best sih, hehe

    BalasHapus
  2. Apa yang digambarkan di film² ternyata di realisasikan. Tapi ya lebih cocok bagi orang introvert, dengan kesendiriannya. Kalaupun mampu, kayaknya terlalu berlebih untuk membeli alat ini... Apalagi saya kurang suka dengan Apple, lebih suka Android buat Oprek APK yang opensource

    BalasHapus